ADV2 ADV2 ADV2 ADV2 ADV2

Menelisik Usaha Kopi ‘Cap Keluarga’ di Kotamobagu

Share This:

Jejeran kopi cap keluarga Kotamobagu yang siap di pasarkan

Jejeran kopi cap keluarga Kotamobagu yang siap di pasarkan

Laporan Junaidi Amra

Nama Kopi ‘Cap Keluarga’ mungkin tidak asing lagi di telinga para penikmat Kopi. Ya, benar kopi dengan aroma robusta dan torabica yang khas itu berasal dari Kotamobagu. Namun, siapa sangka kalau usaha kopi ini beranjak dari hobi yang kemudian dijadikan usaha kecil-kecilan dari pemiliknya, Frans J Langi.
Menemui salah satu generasi penerus dari usaha Kopi ‘Cap Keluarga’ Kotamobagu memang bukan hal yang sulit.
Tonny Langi, anak dari perintis usaha Kopi Frans J Langi ini, masih saja berkutat dengan aktifitasnya, yang langsung menjaga toko miliknya UD Sakura, yang terletak di ruas jalan Adampe Dolot, tepatnya di kompleks Pertokoan Kotamobagu.
“Usaha ini dirintis oleh bapak saya semenjak tahun 1985 silam,” ujar Tonny memulai cerita dari bisnis kopi milik keluarganya, saat ditemui Sabtu (24/10/2014) sore itu.
Saat itu, dikatakan Tonny ayahnya merupakan salah satu penikmat kopi, yang dengan hobinya mencoba mengembangkan hobi tersebut menjadi usaha kecil-kecilan.
“Awalnya seluruh proses pembuatan kopi kami masih dengan cara tradisional,” tambahnya.
Dari tahun 1985 itu, dikatakan Tonny, ayahnya kemudian melakukan berbagai upaya untuk mengembangkan bisnis tersebut.
“Hasilnya, ketika tahun 2002 proses pembuatan kopi yang kami lakukan sudah mulai modern. Pabrik pengolahan kopi dibangun dan berlokasi di ruas jalan Amurang Kotamobagu Doloduo (AKD), tepatnya di Desa Kopandakan Kecamatan Kotamobagu Selatan,” jelasnya.
Soal bahan baku dari pengolahan kopi itu sendiri, Tonny mengatakan mereka membelinya dari para petani kopi di seluruh wilayah Bolaang Mongondo Raya.
“Untuk biji kopi kami ambil dengan harga tertinggi yakni Rp25 ribu tiap kilonya. Ini kami lakukan agar dapat memberdayakan para petani kopi di daerah ini,” ucap Tonny.
Menariknya, meski bukan warga asli Bolmong Raya, namun pengusaha berdarah Taipan Cina ini, ikut memberikan perhatian dirinya terhadap warga Kotamobagu. Terbukti, sebagian besar tenaga kerja di pabrik kopi miliknya merupakan orang asli Kotamobagu.
“Ada sekitar 40 an tenaga kerja yang dipekerjakan di pabrik saat ini. 30 an diantara mereka adalah pekerja tetap, dan sisanya adalah ibu rumah tangga dengan sistem kerja lepas karena kesibukan mereka mengurus rumah tangga,” ungkapnya.
Sayangnya, saat ditanya lebih detail soal proses pengolahan kopi mereka, Tonny agak sedikit mengelak, Waja saja, ternyata mereka pernah merasakan pahit, sebab beberapa cara pengolahan kopi mereka diambil oleh perusahaan lain.
“Kalau soal itu sebaiknya langsung tanya ke bapak. Pasalnya, pernah cara pengolahan kopi kami sempat dipakai oleh perusahaan lain,” tukasnya.
Meski demikian, dikatakan Tonny usaha mereka pun pernah menjalani pasang surut dari sisi produksi. Pasalnya, gagal panen oleh petani dari hasil kebun kopi, menjadi salah satu faktor.
“Pernah, ketika itu tahun 1998 terjadi gagal panen. Saat itu, produksi kopi kami sempat terhenti sekitar 3 bulan. Memamg awalnya banyak tawaran untuk mencampur biji kopi kotamobagu dengan hasil kebun kopi dari daerah lain, tapi hal tersebut tidak dilakukan, sebab bagi kamni rasa dan aroma yang jadi ciri khas dan kepuasan adalah yang utama,” jelasnya panjang lebar.
Saat ini, dikatakan Tonny usaha kopi tersebut mulai membuahkan hasil. Pasalnya, produk kopi mereka kini bukan hanya dapat dinikmati oleh warga Bolmong Raya dan Sulut, tapi lebih dari itu, beberapa warga di luar negeri pun pernah mencicipi aroma khas kopi Kotamobagu.
“Setiap pameran berlangsung, pasti produk kopi kami selalu dibawa pulang pengunjung, baik itu dari luar daerah seperti jawa, ataupun turis asing yang datang ke Manado dan Kotamobagu,” tambahnya.
Lantas, bagaimana dengan kontribusi pemerintah setempat, yang secara tidak langsung telah diuntungkan, dengan produk kopi milik mereka?.
“Bagi kami dengan pengurusan ijin usaha yang mudah dari pemerintah merupakan hal yang sangat membantu. Kami tidak ingin lebih, yang paling penting, sebuah kegembiraan tersendiri jika produk ini bisa diterima,” tutupnya. (*)

Tags:
author

Author: