ADV2 ADV2

Bolaang Mongondow  Dalam Pusaran Degradasi Budaya

Share This:

 

Tarian Kabela khas Bolaang Mongondow


Oleh : Wahyu Luthfiyanto

Bolaang mongondow, terletak pada salah satu daerah di Sulawesi utara ini merupakan daerah subur penghasil utama tambang dan hasil bumi lainnya. Daerah yang memiliki penduduk sekitar 213.484 jiwa pada tahun 2010 dengan luas wilayah 5.397,62 km2 dengan kepadatan 39,55 jiwa/km2 etnis mayoritas yang mendiami bolaang mongondow adalah suku mongondow dengan bahasa ibu penduduk asli di daerah ini bahasa mongondow.

Mongondow sendiri adalah suku etnis di Indonesia, dahulu memiliki kerajaan bernama bolaang mongondow sebelum bergabung secara resmi pada tahun 1958 ke dalam Indonesia dan menjadi kabupaten bolaang mongondow. Bolaang mongondow pada dewasa ini mengalami kemajuan yang cukup pesat dalam aspek pembangunan, wilayah kabupaten bolaang mongondow pada tahun 2007 di mekarkan menjadi beberapa daerah yaitu kota kotamobagu dan bolaang mongondow utara, tahun2008 kembali di mekarkan lagi menjadi bolaang mongondow timur dan kabupaten bolaang mongondow selatan.

Awal hingga abad ke 8-9 orang-orang suku mongondow mempercayai bahwa nenek moyang mereka berasal dari pasangan gumalangit dan tendeduata serta pasangan tumotoiboko dan tumotoibokat yang tingal di gunung komasan, gunung yang sekarang berada di desa bintauna kabupaten bolaang mongondow selatan. Masing-masing pasangan ini menurunkan keturunan yang kemudian menjadi suku mongondow.

Bolaang mongondow merupakan daerah yang kaya akan budaya, mulai dari tari-tarian seperti tari tari toya, tari joke, tari mosau tari ronko/ragai, tari kalibombang, tari pomamaan, tari monugal, tari mokoyut, tari kikoyung, tari mokosambe, sampai pada tari tuitan dan tari kabela. Bukan hanya tarian yang di warisakan adapun makanan yang paling khas di daerah bolaang mongondow, dinagoi makanan yang hampir mirip dengan kerak telor yang ada di betawi ini sudah sangat jarang ditemukan bukan karena sulit mendapatkan bahan bakunya tapi selera masyarakat mongondow sendiri yang sudah mengembara sampai ke negeri pizza.

Bukan hanya tarian dan makanan, warisan kebudayaan kita begitu kaya mulai dari bahasa daerah, bait-bait pantun daerah , permainan khas daerah, juga deretan syair-syair dan lagu. Bagaimanapun semua itu merupakan warisan kebudayaan yang perlu diperhatikan dan dijaga tapi melihat realitas yang ada sekarang ini masyarakat bolaang mongondow terkhusunya generasi muda yang kurang memperhatikan bahkan tidak lagi melestarikan budaya. Upaya-upaya pelestarian dan penghargaan budaya tak lepas dari pemilik dan pengguna utamanya, yaitu masyarakat.

Generasi muda merupakan bagian dari masyarakat yang perlu diperhitungkan keberdaanya. Tapi melihat situasi dan kondisi saat ini sangat memprihatinkan dimana generasi muda seakan terlelap oleh arus moderenitas, banyak dari mereka yang tidak tahu akan asal usul budayanya tak terkecuali generasi muda bolaang mongondow. Berbahasa daerah, tari-tarian bahkan makanan warisan budaya suda banyak yang tidak mengetahuinya. Sifat otentik ke daerah yang sudah semakin luntur dan mungkin perlahan-lahan mulai hilang.

Budaya merupakan suatu nilai luhur yang didalamnya terdapat tatanan dalam berkehidupan karena budaya mempengaruhi perilaku masyarakat dalam bertindak baik adat istiadat. Hukum yang tak jelas perumusannya tetapi disepakati sebagai alat pengontrol dalam bertindak, Edward B. Taylor antropolog yang berasal dari inggris menjelaskan kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai angota masyarakat, gambaran sedikit tentang peran budaya dalam kehidupan bermasyarakat.

Bisa disimpulkan bahwa krisis moral yang terjadi di negara ini terkususnya bolaang mongondow akibat lunturnya budaya otentik, bergesernya budaya sama dengan penurunan nilai etika secara umum generasi muda sedang mengalami krisis identitas nilai budaya akibat degradasi budaya atau perubahan kebudayaan. Budaya bolaang mongondow secara lambat laun terus luntur, sekaligus mengalami degradasi. Padahal disamping merupakan identitas masyarakat sekaligus generasi muda mongondow , budaya juga merupakan aset yang harus dipertahankan dan terus dikembangkan.

Nilai kebudayaan telah melekat di dalam masyarakat Indonesia terkususnya bolaang mongondow , nilai-nilai kebudayaan tersebut sangat beragam antara wilayah 1 dengan wilayah yang lain pun akan berbada. Namun di era sekarang ini nilai kebudayaan di dalam masyarakat telah mulai meluntur bahkan ada sebagian yang mulai menghilang. Salah satu penyebabnya adalah era globalisasi yang dapat menggeser nilai-nilai kebudayaan yang telah melekat di dalam masyarakat Indonesia.

Banyak generasi muda sekarang ini yang tidak suka dengan kebudayaan daerahnya sendiri, mereka lebih senang meniru budaya asing yang sangat bertentangan dengan budaya mongondow. karena nilai-nilai kebudayaan dari berbagai Negara dengan mudah tersebar luas karena alat-alat komunikasi yang kian canggih dan maju.Namun sangat disayangkan generasi bolaang mongondow malah semakin melupakan , dan hal hal ini pada akhirnya menimbulkan degradasi budaya .

Contoh kecilnya banyak generasi muda mongondow yang tidak tahu lagi berbahasa daerah mereka sendiri seakan malu menggunakan bahasa asli tanah kelahiran mereka karena kebiasaan sejak kecil entah di rumah maupun tempat belajar atau sekolah tidak lagi mengunakan bahasa daerah seakan pemerintah tidak lagi memperhatikan pelestarian budaya dari sektor pendidikan. Contoh kecil yang dapat kita tarik seperti di pulau dewata bali atau pulau jawa, pelestarian budaya sangat diperhatikan mulai dari sektor pendidikan sampai pada sektor pariwisata dimana kita bisa lihat bersama dimanapun turis yang datang mereka tidak terlepas dari budaya di daerah tersebut sehingga menjadi satu nilai plus untuk pertumbuhan daerah tersebut tanpa menghilangkan sisi otentik dari budaya yang sudah tertanam di daerah tersebut. Mungkin sudah saatnya kita lebih menghargai kita sendiri.

Mungkin pepatah “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai diri nya sendiri” harus kita amati benar-benar, Penyesalan hanya akan datang di akhir episode, tapi harapan, jelas ada di setiap episode kehidupan. (*)

author

Author: