Bantah Klarifikasi RS Kasih Fatimah, Keluarga Nazwa Beber Kejanggalan Penanganan

Kesehatan381 Dilihat

BERITATOTABUAN.COM, KOTAMOBAGU – Meninggalnya Najwa (19), yang diduga menjadi korban malpraktik RS Kasih Fatimah, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga.

RS Kasih Fatimah sendiri telah memberikan klarifikasi terkait penanganan medis terhadap Najwa yang disampaikan langsung oleh Ketua Yayasan Kasih Fatimah, Siti Masita Korompot, SH., MH.

Siti Masita mengatakan, tenaga medis RS Kasih Fatimah telah melakukan penanganan sesuai dengan prosedur.

“Dokter kami telah memberikan arahan yang komprehensif untuk memastikan pemulihan yang optimal,” terangnya, Selasa, 25 Februari 2025.

“Namun, kami mencatat bahwa pasien tidak kembali untuk kontrol, yang merupakan bagian penting dari proses pemulihan,” lanjutnya.

Namun, klarifikasi yang disampaikan Siti Masita terkait proses penanganan malah mendapatkan sanggahan dari pihak keluarga Najwa.

Pihak keluarga menilai, apa yang disampaikan RS Kasih Fatimah tidak sesuai dengan fakta sebenarnya, terlebih banyak kejanggalan dalam penanganan Najwa yang tidak dijelaskan pihak RS.

Ebit, ayah korban mengungkapkan, awalnya, Nazwa dirujuk ke RS Kasih Fatimah sebagai pasien BPJS dan tidak mendapatkan perawatan yang layak.

“Saya merontak karena anak saya sudah sangat kesakitan, tapi mereka bilang dokter tidak ada. Namun, saat saya menyatakan akan mendaftarkan anak saya sebagai pasien umum dan langsung membayar penuh secara tunai, tiba-tiba dokter sudah ada dan siap melakukan operasi,” ungkapnya, kecewa.

Ibu korban, Risnawati, menambahkan, saat menjalani proses persalinan terdapat kejanggalan pada durasi operasi. Di mana, tak sampai hitungan menit terdengar suara bayi menangis.

“Begitu saya keluar dari ruang administrasi setelah memesan kamar VIP, tiba-tiba sudah terdengar suara tangisan bayi. Perawat keluar dan bilang bahwa bayi sudah lahir dengan normal. Saya kaget, antara senang dan bingung, kenapa bisa secepat itu?” ujarnya.

Keluarga pun sempat kaget, setelah diinformasikan Najwa tak hanya menjalani operasi persalinan, namun juga telah melalui operasi pengangkatan kista tanpa persetujuan keluarga.

“Mereka bilang anak saya punya kista, lalu perawat keluar dan memperlihatkan kista yang sudah diangkat. Kami sangat kaget karena tidak pernah diberitahu atau dimintai persetujuan untuk operasi tersebut. Yang kami tanda tangani hanya surat perpindahan status pasien dari BPJS ke umum,” terangnya.

Kondisi Nazwa sendiri mulai memburuk usai menjalani rangkaian operasi tersembut, Ia mengalami pembengkakan di bagian belakang pinggul atas dan akhirnya dirujuk ke RSUD Kotamobagu.

Setelah menjalani perawatan dan transfusi darah selama seminggu, ia sempat membaik dan dipulangkan.

Namun, beberapa hari kemudian, keluhan sakit kembali muncul hingga akhirnya Nazwa dibawa ke RS Monompia dan dirujuk ke RS Siloam Manado akibat infeksi yang semakin parah.

Dari hasil pemeriksaan petugas medis RS Siloam, rongga perut hingga bagian belakang Nazwa sudah dipenuhi nanah, sehingga operasi kembali dilakukan.

Tak sampai disitu, keluarga dibuat shock setelah mendapatkan kabar mengejutkan dari dokter yang menangani Najwa.

“Kami dipanggil ke lantai dua Hotel Arya Duta, di sana ada enam dokter yang sudah menunggu. Mereka menyampaikan bahwa saat operasi, mereka menemukan ovarium kanan anak kami sudah tidak ada,” ungkapnya.

Setelah berjuang melawan infeksi yang semakin parah, Nazwa akhirnya menghembuskan napas terakhirnya pada 3 Februari 2025 di RS Siloam Manado.

Keluarga kini menuntut keadilan dan meminta pertanggungjawaban dari pihak RSIA Kasih Fatimah atas dugaan malpraktik yang merenggut nyawa Nazwa.

Keluarga pun berencana mengambil langkah hukum untuk mendapatkan keadilan dan berharap mendapatkan titik terang terkait kasus ini agar tak ada lagi korban yang mengalami hal serupa dikemudian hari.***

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses