ADV2 ADV2

Gubernur Baru Dan Tantangan Sulut Dalam Menghadapi Asean Economic Conmunity (AEC)

Share This:

Oleh: Clance Teddy, SIP

Oleh: Clance Teddy, SIP

* Mahasiswa Pasca Sarjana UNIMA

* Ketua KORDA GMNI Sulawesi Utara

KURANG dari beberapa bulan lagi Indonesia akan menghadapi Asean Economic Community (AEC 2015) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 (MEA 2015). Namun, secara umum melihat daya saing kinerja logistik dan sumber daya manusia Indonesia masih rendah. Kondisi ini memengaruhi pertumbuhan ekonomi terutama di bidang industri dan perdagangan. Untuk itu, kinerja logistik dan SDM perlu ditingkatkan menjelang era perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN/AEC pada akhir 2015. Berdasarkan data Bank Dunia, Indeks Kinerja Logistik (LPI) Indonesia kalah dari sejumlah negara lain, bahkan Tingkat pendidikan pekerja Indonesia masih didominasi pendidikan dasar, yaitu 70 persen. Adapun yang berpendidikan tinggi hanya 7 persen . Pada 2007, Indonesia yang memiliki skor rata-rata 3,01 berada di peringkat 43 dari 160 negara. Pada 2014, peringkat Indonesia turun ke 53 dengan skor rata- rata 3,08. Peringkat tersebut masih di bawah negara-negara ASEAN lainnya, antara lain Singapura di peringkat 5, Malaysia di posisi 25, Thailand di posisi 35, dan Vietnam di peringkat 48. Selain itu, perdagangan jasa Indonesia juga lemah di sisi sumber daya manusia (SDM). Pada saat berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC) akan terjadi arus bebas tenaga kerja terampil di berbagai bidang seperti pelayanan kesehatan, pariwisata, teknik, teknologi informasi, akuntansi, dan arsitektur.

AEC 2015 merupakan realisasi akhir dari sebuah integrasi ekonomi yang sesuai dengan visi ASEAN 2020, yang didasarkan pada kepentingan bersama Negara anggota ASEAN untuk memperdalam dan memperluas integrasi ekonomi melalui inisiatif yang telah ada dan inisiatif baru dengan kerangka waktu yang  jelas (Cetak Biru KEA 2013). Tujuan utama  dari MEA 2015 ialah untuk mendorong efisiensi dan daya saing ekonomi kawasan ASEAN yang tercermin dalam empat hal: (1) ASEAN sebagai aliran bebas barang, bebas jasa, bebas investasi, bebas tenaga kerja terdidik, dan bebas modal (single market and production base); (2) ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing tinggi (a highly competitive economic region); (3) ASEAN sebagai kawasan dengan pengembangan ekonomi yang merata dengan elemen pengembangan usaha kecil menengah (a region of equitable economic development); dan (4) ASEAN sebagai kawasan terintegrasi (a region fully integrated in to the global economy).

Untuk arus barang sendiri dilakukan dengan menghapuskan bea masuk seluruh barang kecuali barang yang termasuk dalam Sensitive List (SL) dan High Sensitive List (HSL) serta bea masuk produk Priority Integration Sectors (PIS).  Arus jasa dilakukan dengan mengurangi seluruh hambatan dalam perdagangan jasa untuk empat sektor bidang jasa, yaitu transportasi udara,e-ASEAN, kesehatan dan pariwisata, dan mengurangi seluruh hambatan perdagangan jasa pada tahun2015. Sedangkan untuk liberalisasi arus tenaga kerja dilakukan dengan meberikan fasilitas penerbitan visa dan employment pass bagi tenaga profesi serta tenaga kerja terampil ASEAN yang bekerja di sektor-sektor yang berhubungan dengan perdagangan atau investasi antar Negara ASEAN. Tentunya dengan adanya AEC 2015 ini menjadi sebuah peluang sekaligus tantangan bagi Negara-negara ASEAN khususnya Indonesia. Peluang, karena produk-produk Indonesia akan mendapat pasar di kawasan ASEAN.

Populasi ASEAN pada 2012 mencapai 617,68 juta jiwa dengan pendapatan domestik bruto 2,1 triliun dolar AS. Jumlah itu menunjukkan potensi besar ASEAN untuk digarap oleh investor. Namun juga menjadi tantangan, karena jika kita tidak siap maka justru produk dari negara ASEAN lainnya yang akan menyerbu Indonesia. Saat ini  banyak produk impor yang masuk ke Indonesia. Ada keraguan memang apakah Indonesia akan siap atau tidak dalam mengadapi AEC 2015. Menurut Ketua Bidang Organisasi Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Edy Suandi Hamid ” Indonesia belum siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, hal ini disebabkan karena daya saing ekonomi nasional dan daerah belum siap. Mengenai persiapan di dalam negeri, Dirjen Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Imam Pambagyo mengatakan bahwa dalam mengahadapi AEC 2015 Indonesia harus memperkuat daya saing, mengamankan pasar domestik serta mendorong ekspor (Antara News). Akan tetapi, mau tidak mau Indonesia harus siap mengahadapi AEC 2015 karena dengan adanya AEC 2015 ini, secara tidak langsung  masyarakat Indonesia dituntut untuk berkreativitas lagi agar mampu bersaing dengan Negara-negara Anggota ASEAN lainnya. Integrasi ekonomi di ASEAN ini berpeluang menjadi batu loncatan bagi Indonesia untuk memiliki posisi tawar yang kuat dalam konstelasi politik global.

Indonesia bahkan diprediksi  akan menjadi negara dengan tingkat ekonomi terbesar ke tujuh pada 2030. Kenyataan ini dan prediksi ke depan tersebut memberi angin segar dalam membangun optimisme Indonesia menatap masa depan khususnya menjelang berlakunya AEC pada 2015. Perdagangan bebas antar negara di kawasan Asia Tenggara akan membawa hal positif dan negatif bagi masing-masing negara yang terlibat didalamnya. Manfaat AEC 2015 ini yaitu penurunan biaya perjalanan transportasi, menurunkan secara cepat biaya telekomunikasi, meningkatkan jumlah pengguna internet, informasi akan semakin mudah dan cepat diperoleh, meningkatnya investasi dan lapangan kerja. Sisa waktu yang hanya tinggal bebrapa bulan lagi, hendaknya dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh pemerintah untuk bersiap menghadapi AEC 2015. Tantangan kedepan bagi Indonesia ialah mewujudkan perubahan yang berarti bagi kehidupan keseharian masyarakatnya. Semoga seluruh masyarakat Indonesia bisa membantu untuk mewujudkan kehidupan ekonomi dan sosial yang layak agar kita bisa bersaing di masyarakat ekonomi ASEAN tahun 2015.

 

Sulut & Arus Globalisasi AEC 2015

Jauh sebelumnya, Sam Ratulangi (1890-1949) sudah berpikir tentang posisi Pasifik bagi ekonomi dunia. Ada tiga hal yang bersifat pasif. Pertama, sebagai negeri konsumen.  Kedua, negeri sumber bahan mentah. Ketiga, sebagai negeri tempat penanaman modal. Negeri ini mempunyai ciri-ciri yang khas: (a) secara geografis ekonomi (geografo-economisch) letaknya di tengah kawasan konsumsi dan produksi yang berartibagiekonomidunia, sehingga Indonesia mendudukisuatuposisipenentu di dalamlalulintasekonomidunia; (b) secara geo-ekonomi (geo-economisch) tanahnyamengandungkekayaanbahan-bahanmentah mineral, permukaan tanahnya menghasilkan bahan mentah pertanian untuk ekonomi dunia; (c) secara ekonomi sosial (socio-economisch) yakni penduduknya giat bekerja sekalipun dengan tingkat hidup rendah; massa yang enam puluh juta jiwa merupakan kelompok konsumen hasil industri yang setiap tahunnya beratus-ratus juta gulden; (d) secara iklim (klimatologisch) beriklim tropis yang lunak dengan musim teratur; (e) secara keuangan dengan tiadanya modal nasional dalam negeri serta suatu kehampaan industri. Semua faktor tersebut menarik perhatian dan kegiatan modal luar negeri. Akan tetapi di atas segala-galanya, negeri dan rakyatnya sendiri merupakan unsur pasif di dalam perhatian dan kegiatan internasional.

Berangkat dari pemikiran Sam Ratulangi, Gubernur Sulawesi Utara DR. SH. Sarundajang berusaha mengeksplorasi, mengetahui, dan merumuskan kembali konsepsi dasar pemikiran Sam Ratulangi mengenai kondisi dan posisi geografis Indonesia yang sangat prospektif di Kawasan Asia Pasifik, khususnya Sulawesi Utara dalam konteks geopolitik yang melingkupinya. Selanjutnya konsepsi dasar Sam Ratulangi tersebut dijadikan dasar dalam merumuskan strategi sebagai road-map bagipembangunan Sulawesi Utara dalamrencanaaksi yang harusdilakukan, sertauntukmengetahuitantangan yang dihadapidalammengimplementasikannya.

Cukup besar keberhasilan S.H. Sarundajang dalam memimpin Sulut dengan berbagia program baik yang bersifat Nasional maupun Internasional patu tkita apresiasi, Konsepsi berpikir yang tajam dan hebat dapat kita liat dalam disertasinya yang dituangkan dalam buku ‘’ Geostrategi Provinsi Sulawesi Utara sebagai Pintu Gerbang Indonesia di Kawasan Asia Pasifik‘’

Dalam pemikiran DR. SH. Sarundajang, upaya membangun Sulawesi Utara sebagai salah satu Pintu Gerbang Indonesia di kawasan Asia Pasifik melalui keunggulan geostrateginya tidak dapat dilepaskan dari pembangunan NKRI secara keseluruhan. Termasuk di dalamnya membangun daerah-daerah di Kawasan Timur Indonesia (KTI) sebagai daerah yang merupakan satu kawasan pembangunan dengan Sulawesi Utara, dilihat dari kedekatan geografisnya. Menjadikan Sulawesi Utara sebagai salahsatuPintu Gerbang Indonesia di kawasan Asia Pasifik tidak semata-mata demi kepentingan dan kemajuan Sulawesi Utara, akan tetapi secara sinergis-interkoneksis menarik dan mendorong kemajuan KawasanTimurIndonesia yang cenderung mengalami ketertinggalan. Selain itu dalam rangka memperkuat daya saing nasional dan keutuhan NKRI sebagai suatu negara kepulauan.

Tahun 2015 sekarang ini menjadi tahun penentuan bagi perekonomian Indonesia, terutama dengan mulai berlaku efektifnya AEC 2015. Membahas tentang posisi Sulawesi Utara, apakah ini akan menjadi pemenang atau pecundang diKawasan Timur Indonesia. Sektor industri, lahan pertanian, pengembanga swadaya laut adalah sektor kunci bagi Sulut yang akan paling berpengaruh dalam penerapan AEC 2015.

Permasalahan dalam mengahadapi AEC 2015 adalah banyakanya tanggapan selama ini bahwa pemerintah selalu berargumen mengenai upah buruh merupakan sebuah keungulan kompetitif bagi indonesia dimana Sulut juga termasuk didalamnya. Padahal seharusnya hal tersebut bukanlah yang menjadi sorot bagi Sulut dalam mengahadap AEC 2015. Hal pertama yang perlu ditimbang dalam mengadapi AEC yaitu pertama adalah sumber daya manusia atau kualitas hidup manusia, juga dalam hal yang sama meningkatkan sumber daya alam yang dimiliki Sulut. Provinsi Sulawesi Utara memiliki potensi SDA unggulan di sector pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan dan kelautan, serta pariwisata. Berbagai potensi ini didukung perencanaan pembangunan berbasis “strategi Sam Ratulangi-an” dalam bentuk peta jalan pembangunan ekonomi Sulawesi Utara yaitu melalui pengembangan potensi industry unggulan dan membangun ketahanan local dan daya saing.

Potensi Industri unggulan Sulut sebagai Road MAP untuk perdagangan  internasional : “Maritim industri”.

 

Sirkulasi arus laut dunia dapat memberikan dampak yang besar bagi pengembangan industri, terkhusus dalam hal kelautan dan perikanan. Arus perputaran air dunia yang disebut “Great Ocean Conveyor Belt (GOCB)” ini mempengaruhi penyebaran peta arus pergerakan Ikan. Arus ini membawa aliran ikan (salah satunya Tuna) kedalam wilayah laut pasifik, termasuk wilayah sulawesi Utara dan KTI. GOCB dapat diihat dalam gambar dibawah ini.

 

 

 

Letak geografis Sulut yang menjadi lokasi arus GBOC, membawa potensi besar bagi industri dalam hal maritim industri sektor unggulan perikanan. Industri perikanan dapat menjadi pilihan strategi untuk sumber daya swadaya ikan menjadi keunggulan kompetitif dan membawa nilai yang besar, dengan demikian industri perikanan dapat diekspor dalam pasar internasional melalui kerjasama perdagangan dengan negara lain. sebagai contoh di tahun 2008 export ikan tuna (Katsuobushi) dari sulawesi utara ke jepang tercatat mencapai volume 2,006,834.40 kg dengan nilai 7,792,005.78$. performa ekpor ikan Sulut menjadi sebuah nilai ekspor bagi Sulut dalam perdagangan dunia.

Memperkuat daya saing, mengamankan pasar domestik daerah serta mendorong ekspor bagi Indonesia yang mencakup daerah bagian didalamnya merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah nasional dan daerah khususnya SULUT dalam mengahadapi AEC, karena masalah nasional pada suatu negara akan berdampak sampai ditingkat daerah. Lebih lanjut sebagai catatan, dalam waktu dekat Provinsi Sulawesi Utara akan melaksanakan pesta demokrasi yaitu Pemilihan Kepala Daerah/Gubernur, momentum ini sangat penting demi keberlangsungan masa depan cita-cita Sulawesi Utara yang sudah digagas oleh pendahulu. Gubernur yang terpilih harus memiliki Visi dan Misi Kepasifikan untuk mengelola Sulut agar mampu menghadapi tantangan arus Globalisasi ASEAN yaitu Masyarakat Ekonomi Asean (MEA/AEC 2015).

Tags:
author

Author: